Anak-anak tersebar disegala penjuru halaman sekolah,
tertawa,bermain, berteriak, ada yang menangis,beberapa memeluk mainannya. Saat
itu masih pagi, dan ketika saya berjalan menuju gerbang sekolah, segera mereka menyambut
saya dengan pelukan hangat yang tampak seperti ribuan tangan dimata saya.
Dikejauhan, ada wajah-wajah seolah menunggu saya datang untuk menyapa.
Sekolah dasar adalah lingkungan yang sangat penuh dengan keceriaan
bagi seorang konselor. Menurut pendapat saya, para konselor SD adalah sumber
daya tertinggi yang dibutuhkan bagi ratusan siswa disekolahnya. Mereka melihat
kami sebagai orang dewasa yang tidak pernah menghakimi atau meremehkan mereka.
Kami adalah teman mereka, anak-anak bergantung kepada kami untuk dikasihi,
dipahami, dibahagiakan, selalu bersedia menolong, sangat fleksibel dan tidak
berpura-pura. Pada hakekatnya itulah pekerjaan kami.
Itu benar, kaerna pekerjaan kami adalah menyemangati dan memberikan
penghargaan. Dalam hidup banyak siswa, kami mungkin satu-satunya kekuatan
positif. Kehadiran kami disekolah mengizinkan semua anak mengalami perasaan
hangat dan diterima.
Beragam tugas sebagai konselor sekolah dasar dimulai ketika saya
memasuki gerbang halaman sekolah. Menyusul sambutan di halaman oleh anak-anak,
saya pun disambut para guru ketika melangkah masuk ke kantor, dan beberapa dari
mereka segera mengikuti saya ke ruang kerja saya, biasanya yang membutuhkan
konsultasi tentang sejumlah problem dalam disiplin mereka, atau membuat rujukan
tentang siswa-siswa tertentu yang perlu dibantu. Setelah itu, saya mengecek
kembali semua tugas yang sudah saya rencanakan kemarin untuk dikerjakan hari
ini.
Ada hari dimana saya harus melakukan konseling individu dengan
beberapa siswa, namun ada hari lain saya harus melakukan konseling siswa
bersama orangtuanya. Karena biasanya orangtua atau wali siswa sibuk bekerja,
biasanya pertemuan diadakan pagi hari di jam pertama pelajaran, tetapi bisa
juga di jam lain menyesuaikan waktu yang mereka miliki. Dikasus yang berat
kehadiran guru wali kelas sangat dibutuhkan sehingga nantinya terjadi
kesepakatan antara siswa, guru, orangtua dan konselor.
Didalam pertemuan dengan orang tua, bentuk utamanya jelas
intervensi, yaitu konselor memberitahu cara mengubah atau memodifikasi perilaku
siswa, atau menyelesaikan problem yang mengganggu siswa, dan meminta orangtua
mendukungnya. Serta menguapayakan pencegahan. Tujuan utama pertemuan adalah
mengajarkan siswa dan mendukung mereka untuk sanggup membatasi problemnya,
kreatif mencari solusi terbaik dan kuat menghadapi tantangan apapun, membantu
mereka percaya diri dan bertanggungjawab atas pilihan dan tindakan, dan
membantu mereka gigih mengembangkan potensi dan mengatasi kelemahan.
Dihari yang lain saya melakukan bimbingan kelas dan kadang
konseling kelompok. Biasanya bimbingan kelas dilakukan pada jam pelajaran
terakhir sebelum istirahat pertama, atau diparuh kedua jam olahraga. Sangat
menyenangkan menyiapkan peralatan untuk aktivitas bimbingan kelas. Konselor
bisa memilih beragam permainan seperti rumah boneka, layar OHP, sebuah film
pendek, sejumlah poster, buku-buku bergambar, stiker dan sebagainya. Namun
elemen terpentingnya adalah semangat dan senyuman lebar, karena dari situlah
anak-anak akan merasa bersama kita dan mau menerima apa yang akan dikatakan.
Untuk menghilangkan ketegangan diawal sesi, sekolah kami membuat
semacam “aturan” dengan memberikan “tos lima jari” dan atau “pelukan”ketika
saya melewati mereka. Ini jelas menyelamatkan konselor dari rasa gugup dan rasa
malu, membangkitkan semangat, menyiapkan mental para siswa, menginspirasikan
sesuatu yang dikatakan. Lalu apa yang diajarkan selama sesi bimbingan kelas
tersebut? sebuah pendidikan afeksi, merasakan sesuatu, memikirkan sesuatu,
mengimajinasikan sesuatu, memberikan suatu contoh kasus lalu menunjukkan kepada
mereka cara-cara orang menghadapi seberta konsekuensinya, mengajari mereka cara
mengambil keputusan yang tepat, membawa mereka paham akan kemampuan dan
hambatan yang ada dalam dirinya dengan mempelajari perbandingan biografi
tokoh-tokoh terkenal, menunjukkan pada mereka perubahan yang mungkin terjadi
dan bisa dilakukan, dan akhirnya meningkatkan kepekaan dan kepedulian mereka
pada sesama. Teknik yang dilakukan untuk melakukan bimbingan kelas bukan
teknik-teknik akademis.
Di hari-hari yang lain, saya harus melakukan konseling kelompok
pada beberapa siswa, biasanya dibatasi maksimal 6 siswa untuk efektifnya.
Prosedur konseling kelompok dilakukan sesuai aturan yang berlaku, dan biasanya
untuk mengatasi suatu problem yang dihadapi atar-siswa, atau beberapa siswa
mengalami permasalahan yang sama, atau memperlihatkan kepada beberapa siswa
yang memiliki problem berbeda kalau mereka bisa saling bekerja samauntuk
menyelsaikannya. Namun dimikian ada hari berjalan menegangkan, khususnya ketika
terjadi insiden kecil yang membutuhkan pertolongan darurat. Bagaimanapun siswa
SD adalah manusia-manusia yang laing aktif, dan terkadang mereka sulit
mengotrol diri kalau sudah terlanjur gembira bermain. Para guru jelas tidak
mungkin bisa membawa siswa ke rumah sakit atau klinik terdekat, karena harus
mengajar. Lalu pilihan jatuh ke pihak administrator kalau sedang tidak sibuk,
atau konselor.
Akhirnya, untuk menjadi seorang konselor yang profesional, saya
harus memiliki data yang lengkap mengenai siswa, dan data dari administratornya
jelas terlalu demografik. Konselor perlu data objektif mengenai kondisi
psikologis semua siswa. Karena itu, dihari-hari yang lain, saya menjalankan tes
standar untuk mengetahui kondisi objektif siswa. Dan dihari yang lain saya
mengajarkan tes khusus untuk problem-problem tertentu pada siswa tertentu.
Menjadi tanggungjawab saya untuk menyediakan format tes yang
dibutuhkan. Pencarian, pemberian tes, penilaian dan penyimpanan hasil nilai
dalam format laporan terpadu sungguh memakan waktu cukup banyak. Kadang saya
harus membawa pekerjaan kerumah untuk diselesaikan, atau kadang bisa saya
selesaikan di sekolah ketika tidak ada jadwal rutin hari itu atau tidak banyak
aktifitas konseling individu atau kelompok. Memiliki data akurat mengenai
kondisi psikologis umum setiap siswa dan kondisi khusus siswa tertentu
menjadikan saya lebih efektif bekerja, membantu para guru dan orang tua
mengenali dan memahami anak-anak.
Mendekati akhir semester saya harus membuat laporan mengenai
seluruh aktifitas profesional saya disekolah untuk diserahkan ke organisasi
profesi. Bukan sekedar persyaratan organisasi, namun lebih penting lagi,
menjadi dokumentasi berharga untuk penilaian siapapun yang ingin mengetahui
kemajuan program konseling disekolah kami, dan bahan penelitian berharga untuk
periset yang ingin meneliti dikemudian hari.
Selain untuk fungsi administrasi, hasil tes bisa juga dilaporkan
kepada orangtua dan menjadi peganganpara guru. Tujuannya agar semua pihak
mengetahui setepat mungkin potensi, kemungkinan gangguan dan hambatan yang
dimiliki anak-anak, lalu bekerjasama mengatasinya dengan baik. Paling baik jika
hasil tes bisa dibahas bersama didalam pertemuan dengan guru wali kelas dan
orangtua. Agar beban guru menjadi lebuh ringan karena memahami kondisi
psikologis siswanya, agar orangtua paham anaknya dan meringankan kecemasan
karena ketidaktauhannya, agar terjadi saling pengertian dan penghargaan antara
guru dan orangtua, dan agar semua pihak bersemangat untuk mengembangkan potensi
dan semangat belajar anak.
Para konselor sekolah dasar adalah pribadi-pribadi yang istimewa
dan penuh perhatian, yang mendedikasikan hidupnya untuk mendidik anak-anak
diwilayah afektif. Kami membantu mereka mempersiapkan diri menjadi orang dewasa
yang lebih percaya diri, produktif, dan sukses.hari kami diakhiri dengan sebuah
perasaan penuh dan utuh karena umpan balik yang terus kami peroleh dari
anak-anak, orangtua dan guru, dan kepuasan karena pencapaian yaitu sudah
membuat perbedaan besar bagi hidup anak-anak yang kami sayang itu.
