Pengalaman lapangan dan masil wawancara menunjukkan bahwa
pembimbing di sekolah-sekolah kurang dalam segi keterampilan konseling untuk
mengembangkan potensi siswa dan membantu siswa untuk mengantisipasi
permasalahan yang dihadapinya. Hasil study mengenai kemampuan guru-guru
pembimbing SMA dalam memberikan konseling terhadap siswa yang telah membuktikan
hal-hal berikut:
1.
Kebanyakan
pembimbing SMA tidak mampu bersama Klien untuk mendefinisikan masalah siswa
pada tahap awal konseling.
Karena itu
bagaimana mungkin pembimbing akan berhasil membantu pengembangan potensi siswa,
dan siswa yang dapat memecahkan masalahnya pada kasus siswa yang datang dengan
sukarela kepada pembimbing. Padahal jika pembimbingcukup mempunyai keterampilan
yakni menguasai teknik-teknik konseling, maka di tahap awal itu dia tentu akan
berhasil mendefinisikan masalah klien secara bersama-sama.
Bayangkan
kebanyakan siswa datang kepada pembimbing adalah karena dihadirkan dengan agak
paksa. Siswa tersebut bersifat enggan, tertutup, dan dengan perasaan kesal,
serta agak cemas hadir diruangan BK. Menghadapi siswa yang memiliki ciri-ciri
tersebut pada tahap awal konseling jauh lebih sulit daripada siswa yang datang
dengan sukarela. Untuk itu amat dibutuhkan keahlian pembimbing dalam
memvariasikan teknik-teknik konseling ditahap awal.
Adapun teknik
konseling yang diperlukan pada tahap awal konseling adalah Attending (keramahan
menerima siswa), empati primer dan tingkat tinggi, refleksi perasaan,
eksplorasi perasaan dan pengalaman, dan kemampuan menangkap pesan utama siswa,
kemudian merumuskan bersama bersama siswa masalah yang dialaminya.
2.
Kurangnya
keterampilan pembimbing dalam mengaplikasikan teknik-teknik konseling.
Dari hasil penelitian banyak pembimbing sekolah mengeluarkan empat
hingga lima teknik konseling saja, seperti pertanyaan tertutup, nasehat, pemberian
informasi, mengajar, dan mengarahkan.
Disamping teknik-teknik yang minim dan tidak bervariasi, kebanyakan
pembimbing seperti menginterogasi siswa sebagaimana layaknya dilakukan oleh
petugas keamanan. Dengan kurang kayanya teknis konseling serta konseling yang
bernada interogasi, kebanyakan siswa-siswi dkonseling menjadi tertutup, atau
walaupun ada jawaban sekedar “ya” dan “tidak”, atau berupa bahasa badan yakni
dengan anggukan dan gelengan kepalaa.
Pembimbing tidak mampu membuat siswa berpartisipasi dalam konsep
konseling. Kebanyakan siswa menjadi pasif dan tidak terbuka. Kondisi seperti
ini membuat pembimbing banyak bicara dengan nasehat-nasehat, arahan, dan
pemberian informasi.
3.
Tidak
mampu membantu mengembangkan potensi dan penyelesaian masalah secara tuntas.
Hal in disebabkan ketidakmampuan pembimbing untuk menangkap isu-isu
siswa yang penting. Kemudian bersama siswa menentukan isu yang dianggap amat
penting sebagai masalah untuk dibicarakan. Selanjutnya pada tahap pertengahan
masalah tersebut di kupas bersama siswa.
a.
Kebanyakan
pengembangan potensi dan pemecahan masalahnya.
b.
Adanya
rencana hidup implikasi kemampuan mengatasi masalah. kedua hal tersebut kebanyakan
hasil prakarsa siswa sebagai akibat kemampuan pembimbing dalam memimpin proses
konseling.
c.
Menurunnya
derajat kecemasan siswa secara berarti, sehingga mukanya berser-seri saat
keluar dari ruang bimbingan dan
konseling.adanya proses
d.
Adanya
evaluasi proses konseling
4.
Kebanyakan
pembimbing sekolah yan diteliti tidak memahami tahapan-tahapan proses konseling
serta tujuan, isi, dan teknik-teknik konseling yang dapat digunakan pada setiap
tahapan tersebut.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar