Selasa, 11 April 2017

praktik Konseling disekolah

Pengalaman lapangan dan masil wawancara menunjukkan bahwa pembimbing di sekolah-sekolah kurang dalam segi keterampilan konseling untuk mengembangkan potensi siswa dan membantu siswa untuk mengantisipasi permasalahan yang dihadapinya. Hasil study mengenai kemampuan guru-guru pembimbing SMA dalam memberikan konseling terhadap siswa yang telah membuktikan hal-hal berikut:
1.      Kebanyakan pembimbing SMA tidak mampu bersama Klien untuk mendefinisikan masalah siswa pada tahap awal konseling.
Karena itu bagaimana mungkin pembimbing akan berhasil membantu pengembangan potensi siswa, dan siswa yang dapat memecahkan masalahnya pada kasus siswa yang datang dengan sukarela kepada pembimbing. Padahal jika pembimbingcukup mempunyai keterampilan yakni menguasai teknik-teknik konseling, maka di tahap awal itu dia tentu akan berhasil mendefinisikan masalah klien secara bersama-sama.
Bayangkan kebanyakan siswa datang kepada pembimbing adalah karena dihadirkan dengan agak paksa. Siswa tersebut bersifat enggan, tertutup, dan dengan perasaan kesal, serta agak cemas hadir diruangan BK. Menghadapi siswa yang memiliki ciri-ciri tersebut pada tahap awal konseling jauh lebih sulit daripada siswa yang datang dengan sukarela. Untuk itu amat dibutuhkan keahlian pembimbing dalam memvariasikan teknik-teknik konseling ditahap awal.
Adapun teknik konseling yang diperlukan pada tahap awal konseling adalah Attending (keramahan menerima siswa), empati primer dan tingkat tinggi, refleksi perasaan, eksplorasi perasaan dan pengalaman, dan kemampuan menangkap pesan utama siswa, kemudian merumuskan bersama bersama siswa masalah yang dialaminya.
2.      Kurangnya keterampilan pembimbing dalam mengaplikasikan teknik-teknik konseling.
Dari hasil penelitian banyak pembimbing sekolah mengeluarkan empat hingga lima teknik konseling saja, seperti pertanyaan tertutup, nasehat, pemberian informasi, mengajar, dan mengarahkan.
Disamping teknik-teknik yang minim dan tidak bervariasi, kebanyakan pembimbing seperti menginterogasi siswa sebagaimana layaknya dilakukan oleh petugas keamanan. Dengan kurang kayanya teknis konseling serta konseling yang bernada interogasi, kebanyakan siswa-siswi dkonseling menjadi tertutup, atau walaupun ada jawaban sekedar “ya” dan “tidak”, atau berupa bahasa badan yakni dengan anggukan dan gelengan kepalaa.
Pembimbing tidak mampu membuat siswa berpartisipasi dalam konsep konseling. Kebanyakan siswa menjadi pasif dan tidak terbuka. Kondisi seperti ini membuat pembimbing banyak bicara dengan nasehat-nasehat, arahan, dan pemberian informasi.
3.      Tidak mampu membantu mengembangkan potensi dan penyelesaian masalah secara tuntas.
Hal in disebabkan ketidakmampuan pembimbing untuk menangkap isu-isu siswa yang penting. Kemudian bersama siswa menentukan isu yang dianggap amat penting sebagai masalah untuk dibicarakan. Selanjutnya pada tahap pertengahan masalah tersebut di kupas bersama siswa.
a.       Kebanyakan pengembangan potensi dan pemecahan masalahnya.
b.      Adanya rencana hidup implikasi kemampuan mengatasi masalah. kedua hal tersebut kebanyakan hasil prakarsa siswa sebagai akibat kemampuan pembimbing dalam memimpin proses konseling.
c.       Menurunnya derajat kecemasan siswa secara berarti, sehingga mukanya berser-seri saat keluar dari ruang  bimbingan dan konseling.adanya proses
d.      Adanya evaluasi proses konseling
4.      Kebanyakan pembimbing sekolah yan diteliti tidak memahami tahapan-tahapan proses konseling serta tujuan, isi, dan teknik-teknik konseling yang dapat digunakan pada setiap tahapan tersebut.

                                                                                 .                                                                                                                                                                                            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar