Selasa, 25 April 2017

Dinamika dan Konselor Sekolah Dasar Fungsi


Anak-anak tersebar disegala penjuru halaman sekolah, tertawa,bermain, berteriak, ada yang menangis,beberapa memeluk mainannya. Saat itu masih pagi, dan ketika saya berjalan menuju gerbang sekolah, segera mereka menyambut saya dengan pelukan hangat yang tampak seperti ribuan tangan dimata saya. Dikejauhan, ada wajah-wajah seolah menunggu saya datang untuk menyapa.

Sekolah dasar adalah lingkungan yang sangat penuh dengan keceriaan bagi seorang konselor. Menurut pendapat saya, para konselor SD adalah sumber daya tertinggi yang dibutuhkan bagi ratusan siswa disekolahnya. Mereka melihat kami sebagai orang dewasa yang tidak pernah menghakimi atau meremehkan mereka. Kami adalah teman mereka, anak-anak bergantung kepada kami untuk dikasihi, dipahami, dibahagiakan, selalu bersedia menolong, sangat fleksibel dan tidak berpura-pura. Pada hakekatnya itulah pekerjaan kami.

Itu benar, kaerna pekerjaan kami adalah menyemangati dan memberikan penghargaan. Dalam hidup banyak siswa, kami mungkin satu-satunya kekuatan positif. Kehadiran kami disekolah mengizinkan semua anak mengalami perasaan hangat dan diterima.

Beragam tugas sebagai konselor sekolah dasar dimulai ketika saya memasuki gerbang halaman sekolah. Menyusul sambutan di halaman oleh anak-anak, saya pun disambut para guru ketika melangkah masuk ke kantor, dan beberapa dari mereka segera mengikuti saya ke ruang kerja saya, biasanya yang membutuhkan konsultasi tentang sejumlah problem dalam disiplin mereka, atau membuat rujukan tentang siswa-siswa tertentu yang perlu dibantu. Setelah itu, saya mengecek kembali semua tugas yang sudah saya rencanakan kemarin untuk dikerjakan hari ini.

Ada hari dimana saya harus melakukan konseling individu dengan beberapa siswa, namun ada hari lain saya harus melakukan konseling siswa bersama orangtuanya. Karena biasanya orangtua atau wali siswa sibuk bekerja, biasanya pertemuan diadakan pagi hari di jam pertama pelajaran, tetapi bisa juga di jam lain menyesuaikan waktu yang mereka miliki. Dikasus yang berat kehadiran guru wali kelas sangat dibutuhkan sehingga nantinya terjadi kesepakatan antara siswa, guru, orangtua dan konselor.

Didalam pertemuan dengan orang tua, bentuk utamanya jelas intervensi, yaitu konselor memberitahu cara mengubah atau memodifikasi perilaku siswa, atau menyelesaikan problem yang mengganggu siswa, dan meminta orangtua mendukungnya. Serta menguapayakan pencegahan. Tujuan utama pertemuan adalah mengajarkan siswa dan mendukung mereka untuk sanggup membatasi problemnya, kreatif mencari solusi terbaik dan kuat menghadapi tantangan apapun, membantu mereka percaya diri dan bertanggungjawab atas pilihan dan tindakan, dan membantu mereka gigih mengembangkan potensi dan mengatasi kelemahan.

Dihari yang lain saya melakukan bimbingan kelas dan kadang konseling kelompok. Biasanya bimbingan kelas dilakukan pada jam pelajaran terakhir sebelum istirahat pertama, atau diparuh kedua jam olahraga. Sangat menyenangkan menyiapkan peralatan untuk aktivitas bimbingan kelas. Konselor bisa memilih beragam permainan seperti rumah boneka, layar OHP, sebuah film pendek, sejumlah poster, buku-buku bergambar, stiker dan sebagainya. Namun elemen terpentingnya adalah semangat dan senyuman lebar, karena dari situlah anak-anak akan merasa bersama kita dan mau menerima apa yang akan dikatakan.

Untuk menghilangkan ketegangan diawal sesi, sekolah kami membuat semacam “aturan” dengan memberikan “tos lima jari” dan atau “pelukan”ketika saya melewati mereka. Ini jelas menyelamatkan konselor dari rasa gugup dan rasa malu, membangkitkan semangat, menyiapkan mental para siswa, menginspirasikan sesuatu yang dikatakan. Lalu apa yang diajarkan selama sesi bimbingan kelas tersebut? sebuah pendidikan afeksi, merasakan sesuatu, memikirkan sesuatu, mengimajinasikan sesuatu, memberikan suatu contoh kasus lalu menunjukkan kepada mereka cara-cara orang menghadapi seberta konsekuensinya, mengajari mereka cara mengambil keputusan yang tepat, membawa mereka paham akan kemampuan dan hambatan yang ada dalam dirinya dengan mempelajari perbandingan biografi tokoh-tokoh terkenal, menunjukkan pada mereka perubahan yang mungkin terjadi dan bisa dilakukan, dan akhirnya meningkatkan kepekaan dan kepedulian mereka pada sesama. Teknik yang dilakukan untuk melakukan bimbingan kelas bukan teknik-teknik akademis.

Di hari-hari yang lain, saya harus melakukan konseling kelompok pada beberapa siswa, biasanya dibatasi maksimal 6 siswa untuk efektifnya. Prosedur konseling kelompok dilakukan sesuai aturan yang berlaku, dan biasanya untuk mengatasi suatu problem yang dihadapi atar-siswa, atau beberapa siswa mengalami permasalahan yang sama, atau memperlihatkan kepada beberapa siswa yang memiliki problem berbeda kalau mereka bisa saling bekerja samauntuk menyelsaikannya. Namun dimikian ada hari berjalan menegangkan, khususnya ketika terjadi insiden kecil yang membutuhkan pertolongan darurat. Bagaimanapun siswa SD adalah manusia-manusia yang laing aktif, dan terkadang mereka sulit mengotrol diri kalau sudah terlanjur gembira bermain. Para guru jelas tidak mungkin bisa membawa siswa ke rumah sakit atau klinik terdekat, karena harus mengajar. Lalu pilihan jatuh ke pihak administrator kalau sedang tidak sibuk, atau konselor.

Akhirnya, untuk menjadi seorang konselor yang profesional, saya harus memiliki data yang lengkap mengenai siswa, dan data dari administratornya jelas terlalu demografik. Konselor perlu data objektif mengenai kondisi psikologis semua siswa. Karena itu, dihari-hari yang lain, saya menjalankan tes standar untuk mengetahui kondisi objektif siswa. Dan dihari yang lain saya mengajarkan tes khusus untuk problem-problem tertentu pada siswa tertentu.

Menjadi tanggungjawab saya untuk menyediakan format tes yang dibutuhkan. Pencarian, pemberian tes, penilaian dan penyimpanan hasil nilai dalam format laporan terpadu sungguh memakan waktu cukup banyak. Kadang saya harus membawa pekerjaan kerumah untuk diselesaikan, atau kadang bisa saya selesaikan di sekolah ketika tidak ada jadwal rutin hari itu atau tidak banyak aktifitas konseling individu atau kelompok. Memiliki data akurat mengenai kondisi psikologis umum setiap siswa dan kondisi khusus siswa tertentu menjadikan saya lebih efektif bekerja, membantu para guru dan orang tua mengenali dan memahami anak-anak.

Mendekati akhir semester saya harus membuat laporan mengenai seluruh aktifitas profesional saya disekolah untuk diserahkan ke organisasi profesi. Bukan sekedar persyaratan organisasi, namun lebih penting lagi, menjadi dokumentasi berharga untuk penilaian siapapun yang ingin mengetahui kemajuan program konseling disekolah kami, dan bahan penelitian berharga untuk periset yang ingin meneliti dikemudian hari.

Selain untuk fungsi administrasi, hasil tes bisa juga dilaporkan kepada orangtua dan menjadi peganganpara guru. Tujuannya agar semua pihak mengetahui setepat mungkin potensi, kemungkinan gangguan dan hambatan yang dimiliki anak-anak, lalu bekerjasama mengatasinya dengan baik. Paling baik jika hasil tes bisa dibahas bersama didalam pertemuan dengan guru wali kelas dan orangtua. Agar beban guru menjadi lebuh ringan karena memahami kondisi psikologis siswanya, agar orangtua paham anaknya dan meringankan kecemasan karena ketidaktauhannya, agar terjadi saling pengertian dan penghargaan antara guru dan orangtua, dan agar semua pihak bersemangat untuk mengembangkan potensi dan semangat belajar anak.

Para konselor sekolah dasar adalah pribadi-pribadi yang istimewa dan penuh perhatian, yang mendedikasikan hidupnya untuk mendidik anak-anak diwilayah afektif. Kami membantu mereka mempersiapkan diri menjadi orang dewasa yang lebih percaya diri, produktif, dan sukses.hari kami diakhiri dengan sebuah perasaan penuh dan utuh karena umpan balik yang terus kami peroleh dari anak-anak, orangtua dan guru, dan kepuasan karena pencapaian yaitu sudah membuat perbedaan besar bagi hidup anak-anak yang kami sayang itu.

Deskripsi ini tentang aktifitas sehari-hari seorang konselor sekolah dasar yang ditulis Sherry K. Basile, Ph. D. Saat itu ia bekerja sebagai konselor sekolah dasar di Berkeley Elementary School, Monck’s Corner, South Carolina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar