Bagi konselor menguasai teknik konseling adalah mutlak. Sebab dalam
konseling teknik yang baik adalah kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan
konseling. Seorang konselor yang baik harus mampu merespon klien dengan tenik
yang benar, sesuai dengan kondisi klien saat itu. Respon yang baik adalah
pernyataan-pernyataan verbal dan nonverbal yang dapat menyentuh, merangsang, dan
mendorong sehingga klien terbuka untuk menyatakan dengan bebas perasaan,
pikiran dan pengalamannya. Selanjutnya klien terus terlibat dalam mendiskusikan
mengenai dirinya bersama konselor.
Teknik konseling merupakan cara yang digunakan oleh seorang
konselor dalam hubungan konseling untuk membantu klien agar berkembang
potensinya serta mampu mengatasi masalah yang dihadapi dengan mempertimbangkan
kondisi-kondisi lingkungan yakni nilai-nilai sosial, budaya dan agama. Ada
beberapa istilah yang digunakan untuk menamakan teknik konseling yaitu
keterampilan konseling, strategi konseling.
Respon konselor terhadap klien mencakup dua sasaran yaitu perilaku
verbal dan perilaku non verbal. Perilaku verbal mencakup semua pernyataan baik
kalimat-kalimat yang panjang, singkat, maupun yang terpotong-potong seperti oh,
aduh, yah, dan sebagainya. Sedangkan perilaku non verbal adalah semua
perilaku bahasa tubuh berupa isyarat, posisi tubuh, ekspresi wajah, kontak
mata, letak lengan, anggukan kepala, jarak duduk dan posisi kaki.
Seorang konselor bukanlah robot yang sedang berbicara. Melainkan
seorang individu yang sarat dengan latar belakang sosial, budaya, agama,
persoalan-persoalan hidup, keinginan dan cita cita, dan masih banyak lagi.
kalau konselor berespon terhadap klien dalam kondisi dirinya tidak nyaman, dan
sedang terganggu, maka besar kemungkinan kondisi tersebut akan terbawa tanpa
sengaja kedalam hubungan konseling. Untuk mengatasi hal tersebut konselor harus
berusaha mengusir segala masalah diri semaksimal mungkin, dan paling tidak dia
harus menyadari bahwa dirinya mempunyai masalah. Dengan perkataan lain harus
ada kepekaan terhadap diri. Kemudian konselor tersebut harus peka tentang
adanya bahasa tubuh klien, dan terlatih dalam membaca bahasa tubuh tersebut,
serta terlatih pula dalam menggunakan teknik-teknik konseling sesuai dengan
pernyataan verbal dan nonverbal klien.
Seorang konselor yang terpengaruh oleh keadaan luar dirinya seperti
lingkungan, keluarga, dan ekonomi, atau mungkin dalam kondisi emosi yang tidak
stabil, maka itu semua akan berpengaruh terhadap hubungan konseling. Dan akan
berpengaruh pula terhadap respon klien kepada konselor. Dampaknya respon klien
tidak sesuai dengan harapan seperti kurang bersahabat, tidak berpartisipasi dan
tertutup.
Sedangkan respon klien menurut barbara F. Okun (1987) respon klien
terbagi atas dua hal:
1.
Verbal
massages yaitu pesan-pesan verbal atau
ucapan-ucapan yang berisi muatan kognitif.
2.
Nonverbal messages
merupakan pesan-pesan dengan muatan afektif dan psikomotor.
Untuk bisa membaca pesan, disamping kepekaan, konselor harus
mendapat latihan-latihan khusus, yaitu microtraining atau microcounseling
suatu latihan khusus setiap teknik konseling secara teratur dan berulang kali,
dan macrotraining atau macrocounseling yaitu menggunakan
teknik-teknik konseling dengan bervariasi dalam simulasi (role playing)
dan praktik konseling.
