Jumat, 24 Maret 2017

Pentingnya Teknik Bimbingan Konseling Bagi Konselor

Bagi konselor menguasai teknik konseling adalah mutlak. Sebab dalam konseling teknik yang baik adalah kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan konseling. Seorang konselor yang baik harus mampu merespon klien dengan tenik yang benar, sesuai dengan kondisi klien saat itu. Respon yang baik adalah pernyataan-pernyataan verbal dan nonverbal yang dapat menyentuh, merangsang, dan mendorong sehingga klien terbuka untuk menyatakan dengan bebas perasaan, pikiran dan pengalamannya. Selanjutnya klien terus terlibat dalam mendiskusikan mengenai dirinya bersama konselor.
Teknik konseling merupakan cara yang digunakan oleh seorang konselor dalam hubungan konseling untuk membantu klien agar berkembang potensinya serta mampu mengatasi masalah yang dihadapi dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi lingkungan yakni nilai-nilai sosial, budaya dan agama. Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menamakan teknik konseling yaitu keterampilan konseling, strategi konseling.
Respon konselor terhadap klien mencakup dua sasaran yaitu perilaku verbal dan perilaku non verbal. Perilaku verbal mencakup semua pernyataan baik kalimat-kalimat yang panjang, singkat, maupun yang terpotong-potong seperti oh, aduh, yah, dan sebagainya. Sedangkan perilaku non verbal adalah semua perilaku bahasa tubuh berupa isyarat, posisi tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, letak lengan, anggukan kepala, jarak duduk dan posisi kaki.
Seorang konselor bukanlah robot yang sedang berbicara. Melainkan seorang individu yang sarat dengan latar belakang sosial, budaya, agama, persoalan-persoalan hidup, keinginan dan cita cita, dan masih banyak lagi. kalau konselor berespon terhadap klien dalam kondisi dirinya tidak nyaman, dan sedang terganggu, maka besar kemungkinan kondisi tersebut akan terbawa tanpa sengaja kedalam hubungan konseling. Untuk mengatasi hal tersebut konselor harus berusaha mengusir segala masalah diri semaksimal mungkin, dan paling tidak dia harus menyadari bahwa dirinya mempunyai masalah. Dengan perkataan lain harus ada kepekaan terhadap diri. Kemudian konselor tersebut harus peka tentang adanya bahasa tubuh klien, dan terlatih dalam membaca bahasa tubuh tersebut, serta terlatih pula dalam menggunakan teknik-teknik konseling sesuai dengan pernyataan verbal dan nonverbal klien.
Seorang konselor yang terpengaruh oleh keadaan luar dirinya seperti lingkungan, keluarga, dan ekonomi, atau mungkin dalam kondisi emosi yang tidak stabil, maka itu semua akan berpengaruh terhadap hubungan konseling. Dan akan berpengaruh pula terhadap respon klien kepada konselor. Dampaknya respon klien tidak sesuai dengan harapan seperti kurang bersahabat, tidak berpartisipasi dan tertutup.
Sedangkan respon klien menurut barbara F. Okun (1987) respon klien terbagi atas dua hal:
1.      Verbal massages yaitu pesan-pesan verbal atau ucapan-ucapan yang berisi muatan kognitif.
2.      Nonverbal messages merupakan pesan-pesan dengan muatan afektif dan psikomotor.
Untuk bisa membaca pesan, disamping kepekaan, konselor harus mendapat latihan-latihan khusus, yaitu microtraining atau microcounseling suatu latihan khusus setiap teknik konseling secara teratur dan berulang kali, dan macrotraining atau macrocounseling yaitu menggunakan teknik-teknik konseling dengan bervariasi dalam simulasi (role playing) dan praktik konseling.


JENIS-JENIS LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

Pengembangan potensi siswa dan membantu pemecahan masalah yang dihadapinya, perlu ada kegiatan layanan bimbingan dan konseling yang terorganisir, terprogram, dan terarah. Selain itu dituntut keahlian dari guru pembimbing, dan tersedianya dana serta sarana yang memadai. Perhatian utama siswa yang biasanya kepada siswa yang bermasalah, kini dipusatkan pada siswa yang normal, tidak bermasalah, jumlahnya terbanyak, dan potensial untuk dikembangkang.
Melayani siswa disekolah terutama yang jumlahnya banyak perlu memperbanyak guru pembimbing profesional konseling. Hal ini akan menjaga citra sekolah dan citra bimbingan konseling yang selama ini banyak tercemar berhubung dilakukan oleh guru pembimbing yang tidak bekerja secara profesional. Perbandingan antara seorang guru pembimbing dengan siswa adalah maksimal 1:200, artinya setiap seorang guru pembimbing melayani 200 siswa selama satu tahun. Dengan demikian, pembimbing akan dapat memberikan layanan konseling individual dan bimbingan secara terencana.
Berdasarkan kurikulum SMU 1994, Kegiatan layanan bimbingan dan konseling terdiri dari:
1.      Layanan orientasi
Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang dikoordinir guru pembimbing dengan bantuan semua guru dan wali kelas, dengan tujuan membantu mengarahkan siswa dari situasi lama ke situasi baru. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam layanan orientasi adalah layanan informasi, memberikan keterangan tentang berbagai hal berkenaan dengan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar, guru, para siswa lama, lingkungan fisik sekolah, ruang bimbingan dan konseling dan kantor guru beserta kepala sekolah.
2.      Layanan informasi
Layanan informasi dilakukan sepanjang tahun jika diperlukan siswa dan orangtuanya demi kemajuan studi. Karena itu layanan yang satu ini harus diprogramkan dengan baik. Jika pada layanan orientasi, adalah karena berkaitan dengan keperluan siswa baru. Namun, jika para siswa baru telah menjadi senior, mereka tetap memerlukan layanan informasi. Demikian juga terhadap orang tua siswa, sepanjang tahun selama anaknya di sekolah mungkin masih memerlukan layanan berbagai informasi. Layanan informasi meliputi:
a.       Informasi pendidikan.
b.      Informasi jabatan/pekerjaan.
c.       Informasi sosial budaya
d.      Informasi diri siswa

3.      Layanan bimbingan penempatan dan penyaluran
Layanan ini dpimpin oleh guru pembimbing. Akan tetapi dapat juga dilakukan oleh wali kelas dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah atau guru pembimbing. Namun perlu diingat bahwa kegiatan ini besar kemungkinan akan mengait dengan hal-hal yang profesional seserti tes psikologi, pembuatan angket khusus, wawancara konseling, karena itu campur tangan pembimbing profesional tidak dapat dipungkiri.
4.      Layanan bimbingan belajar
Layanan bimbingan belajar yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan siswa mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. Hal ini berarti siswa memiliki kemampuan lebih dapat menyelesaikan masa belajarnya lebih cepat dan berkualitas.
Kegiatan ini dilakukan oleh guru pembimbing dan dibantu oleh wali kelas dan guru lainnya. Dalam hal-hal kesulitan belajar dengan kadar latar belakang psikologis yang agak dalam, maka penanganannya memerlukan cara-cara yang profesional.
Diagnosis kesulitan belajar adalah suatu cara untuk membantu siswa mengatasi kesulitan belajar yang dihadapinya. Dengan metode diagnostik ini akan diketahui sebab-sebab kesulitan tersebut.
5.      Layanan konseling individual
Layanan konseling individual adalah layanan yang diberikan oleh konselor kepada seorang siswa dengan tujuan berkembangnya potensi siswa, mampu mengatasi masalah sendiri dan dapat menyesuaikan diri secara positif.
6.      Layanan bimbingan kelompok
Layanan bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan kepada sekelompok siswa untuk memecahkan secara bersama masalah-masalah yang menghambat perkembangan siswa.

Selasa, 21 Maret 2017

bimbingan bagi siswa bermasalah

saat duduk dibangku sekolah seringkali kita dihadapkan oleh siswa yang bermasalah, bahkan kita menganggap siswa bermasalah merupakan momok bagi masyarakat dilingkungan sekolah. Dan tidak jarang siswa yang bermasalah kurang mendapatkan pehatian dari pihak sekolah, mereka dianggap musuh bagi lingkungan sekolah, ketika mereka membuat problem seakan-akan hanya hukuman yang pantas bagi mereka, tiada maaf bagi mereka, sedikit dari lembaga sekolah yang memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada siswa pembuat masalah. Padahal yang mereka butuhkan adalah bimbingan kearah yang lebih baik. Maka dari itu penulis akan sedikit mengulas tentang bimbingan bagi siswa bermasalah.
Siswa bermasalah, walaupun jumlahnya tidak lebih dari 5%, tetap menjadi perhatian lembaga bimbingan dan konseling di sekolah. Namun perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa dapat dibantu guru pembimbing berhubung keterbatasan kemampuan profesional. Karena itu perlu dipilah-pilah mengenai kasus-kasus siswa bermasalah kira-kira sebagai berikut:
1.      Kasus ringan seperti membolos, malas, kesulitan belajar bidang study tertentu, bertengkar, berkelahi dengan teman satu sekolah, merokok, minum minuman keras tahap awal, berpacaran, mencuri kelas ringan.
2.      Kasus sedang seperti gangguan emosional, berpacaran dengan perbuatan menyimpang, berkelahi antar sekolah, kesulitan belajar karena gangguan di keluarga, minum minuman keras tahap pertengahan, mencuri kelas sedang, melakukan gangguan sosial dan asusila.
3.      Kasus berat seperti gangguan emosional berat (neurosis), kecanduan alkohol dan narkoba, pelaku kriminalitas, siswi hamil, percobaan bunuh diri, perkelahian dengan senjata tajam.
Adapun penanggung jawa bimbingan dan konseling terhadap kasus-kasus tersebut ialah sebagai berikut:
1.      Kasus ringan : dibimbing oleh wali kelas dan guru-guru dengan berkonsultasi kepada sekolah atau konselor dan mengadakan kunjungan rumah (home visit).
2.      Kasus sedang : dibimbing oleh guru pembimbing dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah, ahli atau profesional, polisi, staff guru dan sebagainya. Dapat pula mengadakan konferensi kasus.
3.      Kasus berat : mengadakan referal (ahli tangan) kepada ahli psikologi dan psikiater, polisi, ahli hukum. sebelumnya diadakan konferensi kasus.