Rabu, 22 Februari 2017

pendidikan kaum pinggiran

Pendidikan merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia, bahkan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan, yakni memanusiakan manusia. Hal ini juga tertera dalam Undang-Undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 bahwa pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan manusia agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan atau cara lain yang kenal dan diakui oleh masyarakat. Sejatinya pendidikan dimulai sejak seseorang dilahirkan hingga putusnya gertakan denyut nadi terakhirnya. Hal ini sesuai dengan hadits nabi yang berarti ”tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat”. Dimana ranah pendidikan bagi manusia meliputi aspek kognitif,afektif, psikomor dan sosial. Namun bagi kaum pinggiran pendidikan memiliki makna yang berbeda. Kaum pinggiran adalah masyarakat kelas bawah yang terpinggirkan atau termarjinalkan dari kehidupan masyarakat. Bagi kaum pinggiran hampir tiada asa bagi seruan memperbaiki nasi. Bahkan tiada harapan untuk pencerahan masa depan mereka. Orang pinggiran bukan hanya orang miskin, gelandangan, pemulung bahkan para penyandang cacat, HIV, AIDS, dan korban perdagangan manusia juga termasuk orang pinggiran. Bagi kaum marjinal pendidikan merupakan sesuatu yang “wah” bahkan dapat dikatakan pendidikan merupakan kebutuhan tersier sehingga hanya orang-orang elit yang dapat mengenyam pendidikan layak. Disamping itu wawasan yang sangat terbatas tentang dunia pendidikan turut mengukuhkan pernyataan tersebut yang akan berdampak pada sikap pesimis sehingga menutup jalan menuju bangku sekolah. Terlebih lagi, jika keterbatasan ini dibumbui oleh sejumlah paham yang salah, seperti sekolah itu mahal, berat, sulit, membutuhkan kecerdasan dan lain sebagainya. Bagi kaum pinggiran yang tergolong miskin beranggapan bahwa sekolah itu tidak penting, sebab hal yang terpenting adalah kekayaan yang bisa mengeluarkan mereka dari kemiskinan. Mengapa mereka beranggapan demikian? Karena orang miskin selalu berpikiran pendek, instan dan pragmatis. Mereka hanya berpikir bagaimana bisa makan hari ini? Bagaimana bisa menghidupi anak istri? Bagaimana mereka bisa membayar utang? Pendek kata, mereka beranggapan bahwa sekolah tidak penting karena pendidikan tidak bisa menyelesaikan berbagai persoalan praktis dalam hidup mereka. Paradigma diatas jika dibiarkan berlarut-larut akan berdampak pada menurunnya kualitas SDM , tingginya angka pengangguran dan indeks kemajuan pendidikan Indonesia semakin tertinggal dengan negara lain. Bahkan hal ini akan menjadi bom waktu yang sangat dahsyat untuk merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun saat ini pemerintah tidak tinggal diam. Berbagai program yang dicanangkan untuk mengatasi pemerataan pendidikan. Seperti beasiswa untuk siswa berprestasi baik tingkatan Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi, program SM3T, Indonesia Mengajar, dan pelatihan-pelatihan yang sifatnya sebagai bekal keterampil, perbaikan infrastruktur dan masih banyak lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar